Wednesday, September 8, 2010

Pascal’s Wager (Pertaruhan Paskal):
Sebuah Note untuk Para Apologet Agama

Blaise Pascal mengajak kita bertaruh tentang Tuhan....

Dalam abad-abad lampau, sejarah Eropa memang mencatat ada sejumlah saintis Kristen, dan status mereka sebagai para ilmuwan Kristen kerap dipakai para apologet Kristen masa kini untuk menyatakan bahwa kekristenan SEJALAN dengan sains modern. Pernyataan apologetik ini keliru, sebab status sebagai orang Kristen HANYA menyatakan bahwa sang ilmuwan ini atau itu beragama Kristen dan sama sekali bukan sebuah bukti bahwa kepercayaan Kristen sejalan dengan sains modern. Malah dalam banyak segi, invensi-invensi di dunia sains yang dibuat para ilmuwan Kristen Eropa pada masa-masa lampau banyak bertabrakkan dengan isi kepercayaan Kristen, misalnya heliosentrisme Kopernikus jelas sangat ditentang Gereja Roma Katolik pada masa itu, dan seorang fisikawan Italia, Galilelo Galilee (1564-1642), tampil sebagai seorang saintis Kristen yang mendukung heliosentrisme, dan akibatnya dia diserahkan ke Inquisisi Roma dan dikenakan tahanan rumah sampai akhir kehidupannya. Pada masa kini, bagian terbesar orang Kristen di seluruh dunia, karena skripturalisme dan literalisme yang mereka pegang, memilih mempercayai dogma kreasionisme dan dogma intelligent design (ID) sementara kedua gagasan dogmatik ini bertabrakkan dengan sains evolusi kosmologis dan sains evolusi biologis modern.

Mengapa para saintis Eropa itu, pada zaman mereka masing-masing, tetap Kristen, kendatipun pemikiran mereka sudah sedemikian maju? Tak lain karena mereka hidup pada suatu zaman yang tidak memberi pilihan lain selain harus tetap Kristen jika ingin memiliki akses ke fasilitas-fasilitas penyelidikan sains; ateisme pada masa itu belum menjadi suatu pilihan jalan hidup yang diterima masyarakat. Pada abad XXI ini, 90 persen saintis kebangsaan Amerika Serikat memilih menjadi ateis, karena pilihan menjadi ateis sudah terbuka dan diterima semakin banyak orang (ada 850 juta sampai 1,2 milyar orang ateis dewasa ini di level global). Sebaliknya, pada level rakyat kebanyakan yang bukan ilmuwan, 85 persen orang Amerika pada masa kini sangat saleh beragama sementara USA sendiri adalah suatu negara sekular (yang memisahkan agama dari politik), dan dogma kreasionisme dan ID terus-menerus diperjuangkan kalangan Kristen fundamentalis USA untuk diizinkan oleh negara diajarkan di sekolah-sekolah umum.



BLAISE PASCAL (1623-1662)


Blaise Pascal adalah seorang matematikus dan fisikawan Perancis, beragama Katolik. Dia juga seorang penulis dan inventor terpandang pada zamannya. Pada 23 November 1654, Pascal mengklaim mengalami suatu pengalaman “mistikal” yang membuatnya memutuskan diri untuk meninggalkan dunia sains lalu mengabdi pada penyelidikan filosofis dan teologi.


Pascal terkenal dengan apa yang dinamakan “Pertaruhan Pascal” (Pascal’s Wager). Katanya, jika orang percaya pada Tuhan, kepercayaannya ini tidak akan merugikan dirinya jika ternyata nanti Tuhan tidak ada, dan akan sangat menguntungkan dirinya jika ternyata Tuhan ada karena dia akan dihadiahi surga. Sebaliknya, jika orang tidak percaya pada Tuhan, dia memang tak akan rugi juga jika ternyata nanti Tuhan tak ada; tetapi jika Tuhan ada, dia akan mengalami kerugian besar karena dia akan dihukum Tuhan di api neraka yang kekal karena ketidakpercayaannya. Jadi, kata Pascal, percayalah kepada Tuhan.


Pertaruhan Pascal ini sangat sering dipakai kalangan apologet Kristen masa kini untuk menyerang para saintis yang sudah meninggalkan kekristenan sebagai sebuah agama dan suatu jalan keselamatan. Karena itu, penting sekali untuk Pertaruhan Pascal ini dikritik.


Nah, jika Pascal bukan beretorika dengan pernyataannya di atas, melainkan serius, maka ada beberapa problem besar dengan Pertaruhan-nya ini yang patut dipikirkan para apologet Kristen masa kini supaya mereka tidak terus saja memakai Pertaruhan Pascal untuk menyerang tanpa daya kalangan saintis yang sudah meninggalkan kepercayaan kepada suatu agama.


Pertama, beriman seperti dianjurkan Pascal adalah beriman sangat egoistik, yakni hanya sekadar untuk terluput dari ancaman penghukuman oleh Allah di api neraka abadi. Orang yang beriman semacam ini tidak akan menghasilkan prestasi besar apa pun bagi pembangunan kemanusiaan dan peradaban, karena hidup bagi mereka tertuju ke akhirat dan di akhirat mereka harus masuk surga. Kepedulian mereka terhadap kehidupan masa kini dalam dunia ini tidak ada, kalau pun ada sangat minim.


Kedua, beriman semacam yang dianjurkan Pascal dapat membuat orang berpura-pura beriman, menipu Allah yang diimaninya hanya supaya si mukmin ini luput dari hukuman Tuhan di akhir zaman. Kalaupun seorang saintis tetap beragama, Pertaruhan Pascal ini akan membuat si saintis ini memutuskan untuk menjalani kehidupan dalam dua dunia terpisah: dunia sains di hari-hari kerja, dan dunia rohani di hari suci agamanya.


Ketiga, Allah yang diimani dengan iman semacam ini adalah Allah yang dungu, yang tak maha tahu, yang tidak tahu bahwa dirinya hanya menjadi sebuah objek pertaruhan manusia yang introvert dan egoistik. Apa yang dapat diharapkan dari suatu Allah yang dungu, selain kedunguan juga?


Keempat, Allah dalam Pertaruhan Pascal ini tampil sebagai suatu Allah yang picik, yang di akhir zaman hanya akan memperhitungkan ada atau tidak adanya kepercayaan personal seseorang kepada diri-Nya dalam menentukan nasib akhir orang ini di kehidupan akhirat. Semua prestasi seseorang dalam banyak aspek kehidupan yang non-agamawi di mata Allah semacam ini sama sekali tidak berharga. Allah semacam ini adalah suatu Allah yang “sola-fideistik” dan akibatnya suatu Allah yang “nihilistik”.


Kelima, daripada percaya pada suatu Allah yang tidak pasti ada, yang bisa dipertaruhkan, orang lebih baik memilih tak percaya, dan menyusun argumentasi tentang ketakberadaaan Allah ini yang nanti, jika Allah ternyata ada, dapat dibeberkan di hadapan-Nya dengan jujur. Bukankah Allah, jika memang Dia adalah Allah yang baik, akan lebih menyayangi orang jujur di akhir zaman ketimbang orang yang menjadikan diri-Nya objek pertaruhan?


Keenam, Allah yang dipikirkan Pascal adalah Allah dalam kepercayaan apokaliptik Yahudi-Kristen (dan Islam) yang akan berperan sebagai sang Hakim di akhir zaman untuk mengadili semua orang berdasarkan ada atau tidaknya kepercayaan dan penyerahan diri total kepada-Nya dan apakah mereka semasa kehidupan di muka Bumi tidak berlaku jahat kepada umat milik Allah ini. Konsep teologis apokaliptik tentang Allah pembalas semacam ini semula diciptakan oleh suatu umat yang sedang mengalami penganiayaan oleh suatu bangsa lain yang tidak mengenal Allah ini. Karena umat yang dianiaya ini lemah posisinya dibandingkan kekuatan pihak penganiaya, umat yang teraniaya ini menunggu pembalasan setimpal yang dipercaya akan Allah lakukan kepada musuh umat ini di akhir zaman. Dengan kata lain, konsep teologis apokaliptik semacam ini lahir dari kebencian mendalam dan kekal suatu umat terhadap umat lainnya, dan Allah diangkat sebagai sang Algojo umat teraniaya ini. Jadi, jika manusia harus berbicara dari kesadaran nuraninya, manusia harus bertanya, apakah Allah yang dikonsep semacam ini harus dipercaya ada atau malah keberadaan-Nya sama sekali harus ditolak.

Ketujuh, karena keberadaan Allah dipertaruhkan, maka belum tentu Allah yang akan menghakimi si mukmin adalah Allah yang dia percaya yang menjadi isi agamanya di Bumi, melainkan Allah lain yang dia tidak kenal dan dia tidak sembah. Jadi, jika nantinya yang akan menghakimi adalah suatu Allah lain yang tidak dikenal, Allah ini tetap akan menghukum dirinya kendatipun si mukmin selama kehidupan di Bumi sudah menyembah Allah, karena dia menyembah suatu Allah yang salah atau suatu Allah yang lain. Akan bisa terjadi bahwa nanti di akhir zaman, yang akan mengadili orang Kristen ternyata Dewa Zeus, dan bukan Tuhan Yezus.


Itulah tujuh poin keberatan terhadap Pascal’s Wager.


Oleh Ioanes Rakhmat



Friday, August 27, 2010

Stephen Hawking tentang Alien dan Planet Mars

Stephen William Hawking dilahirkan pada 8 Januari 1942 dari pasangan suami-istri Frank Hawking dan Isobel Hawking. Bidang penelitian utama Hawking adalah kosmologi teoretis dan gravitasi Quantum. Karir ilmiahnya sebagai seorang mahafisikawan dan kosmolog kebangsaan Inggris telah berlangsung lebih dari empat puluh tahun. Dalam hal-hal yang berkaitan dengan agama, Hawking mengambil suatu posisi agnostik. Dia memang berulangkali menggunakan kata “Allah”, tetapi dalam pengertian metaforis, untuk menggambarkan poin-poin dalam buku-buku dan pidato-pidato publiknya. Akan tetapi mantan istrinya, Jane, dalam suatu pengadilan perceraian mereka, menyatakan bahwa Hawking seorang ateis.

Hawking menyatakan bahwa dia “tidaklah religius dalam pengertian yang normal” dan percaya bahwa “jagat raya diatur oleh hukum-hukum sains. Hukum-hukum ini bisa saja didekritkan oleh Allah, tetapi Allah tidak ikut campur untuk melanggar hukum-hukum itu.” Pada tahun 2010, Hawking membandingkan agama dan sains, katanya: “Ada suatu perbedaan mendasar antara agama, yang didasarkan pada otoritas, dan sains, yang didasarkan pada observasi dan nalar. Sains akan menang sebab sains terbukti bekerja.”



Tentang alien

Dengan menggunakan suatu basis matematika bagi asumsi-asumsinya, Hawking menyatakan bahwa dia hampir dapat memastikan bahwa alien ada di bagian-bagian lain jagat raya. “Menurut otak matematis saya, bilangan-bilangan saja sudah dapat membuat pemikiran tentang alien


Alien kecil bertubuh hijau: akan menginvasi Planet Bumi?

sebagai suatu pemikiran yang secara rasional sempurna. Tantangan yang riil adalah memikirkan para alien itu aktualnya dapat seperti apa.” Hakwing percaya alien bukan hanya pasti ada di planet-planet, tetapi mungkin bahkan di tempat-tempat lain, seperti di dalam bintang-bintang atau bahkan mengapung-apung di angkasa luar. Hawking juga memperingatkan bahwa beberapa spesies ini dapat cerdas dan dapat mengancam Planet Bumi. Kontak dengan spesies semacam itu dapat membinasakan umat manusia. “Jika para alien mengunjungi kita, akibatnya akan sama dengan ketika Kolumbus mendarat di Amerika, yang ternyata tidak baik bagi penduduk asli Amerika,” katanya. Dia menasihati, ketimbang berusaha membangun kontak dengan para alien, manusia harus berupaya menghindari kontak dengan bentuk-bentuk kehidupan alien.



Tentang kolonisasi Planet Mars


Pada tahun 2007, sebelum masuk ke penerbangan gravitasi-nol, dengan nada sedikit futuristik Hawking berkata, “Banyak orang telah bertanya kepada saya mengapa saya mengambil penerbangan ini. Saya melakukannya karena banyak alasan. Pertama-tama, saya percaya bahwa kehidupan di muka Bumi sedang berada pada suatu risiko yang makin besar untuk


Terraformation: mempersiapkan Planet Mars
menjadi koloni kedua umat manusia


terhapus sama sekali oleh suatu bencana seperti perang nuklir yang terjadi dadakan, suatu virus yang direkayasa secara genetik, atau bahaya-bahaya lain. Saya pikir umat manusia tidak memiliki masa depan jika mereka tidak memasuki angkasa luar. Saya karena itu ingin mendorong minat masyarakat pada angkasa luar.”

Dalam suatu wawancara dengan The Daily Telegraph (2001), Hawking menyarankan bahwa angkasa luar adalah harapan jangka panjang untuk Planet Bumi. “Koloni-koloni di angkasa luar bisa jadi harapan satu-satunya,” kata Hawking. Sehari sebelum NASA mengonfirmasi keberadaan air di Planet Mars, di hadapan U.S. House Committee on Science and Technology, pada 30 Juli 2008, Hawking membuat sebuah pernyataan, “Menemukan air di Planet Mars
dapat berarti bahwa suatu koloni Planet Mars di masa depan dapat menggunakan air ini sebagai suatu sumber oksigen.


Planet Mars, bakal menjadi planet kedua
di samping Bumi yang dihuni spesies manusia

Ini adalah suatu langkah pertama untuk menyebarluaskan umat manusia masuk ke angkasa luar, yang menurut saya harus merupakan tujuan jangka panjang kita.” Sejalan dengan pandangan Hawking, Prof. J. Richard Gott, astrofisikawan dari Princeton University, USA, menyatakan, “Kita harus membangun suatu koloni di Mars yang dapat menopang dirinya sendiri. Hal itu akan membuat kita suatu spesies dua planet dan akan membuat lebih baik prospek survival jangka panjang kita dengan memberi kita dua kesempatan ketimbang hanya satu kesempatan.”

Ya, suatu Taman Eden kedua pada saatnya, mungkin di penghujung abad XXI, akan berdiri di Planet Mars. Hal ini hanya mungkin terjadi jika umat manusia di Planet Bumi berani memetik
buah pohon pengetahuan dan memakannya, maksudnya: jika umat manusia makin banyak yang berani berpikir ilmiah dan membangun teknologi yang dapat diandalkan untuk survival mereka di masa depan. ()


Sunday, August 8, 2010

How God Changes Your Brain

Andrew Newberg & Mark Robert Waldman, How God Changes Your Brain: Breakthrough Findings From A Leading Neuroscientist (New York:Ballantine Books, 2009).
“Saya memiliki pengharapan dan perasaan bahwa Allah atau suatu realitas dasariah, dalam bentuk apapun yang dapat diambilnya, sebetulnya ada. Saya tidak tahu apakah intuisi saya ini benar, tetapi saya sangat senang dengan ketidakpastian saya ini.” (Andrew Newberg)
“Bagi saya, tidaklah menjadi suatu masalah jika Allah itu sebuah ilusi atau suatu fakta, sebab jika pun Allah itu suatu metafora, Allah merupakan segala sesuatu yang menjadi tujuan kita yang kita mampu capai, suatu ideal yang menawarkan pengharapan kepada jutaan orang di seluruh dunia.” (Andrew Newberg)
“Secara pribadi, saya dapati sains lebih memuaskan dan lebih misterius ketimbang filsafat dan teologi. Jadi bagi saya, Allah adalah sebuah metafora, bukan sebuah fakta. Namun saya memandang pencarian seseorang akan Allah adalah suatu pencarian yang mulia, dan mempertanyakan keberadaan Allah adalah suatu bagian esensial dari pencarian itu.” (Mark Robert Waldman)
Sejak kita dilahirkan, sudah ada suatu “perintah kognitif” yang tertanam secara biologis dalam otak untuk kita berupaya keras belajar sebanyak mungkin tentang dunia ini. Belajar adalah sebuah dorongan dan kesadaran neurologis yang sudah tertanam dalam otak kita. Dalam dunia keagamaan, sejak masa kanak-kanak dini, Allah menjadi ada di dalam otak setiap manusia sebagai suatu kombinasi gagasan-gagasan, gambar-gambar, perasaan-perasaan, sensasi-sensasi, dan hubungan-hubungan. Sejauh menyangkut fungsi mekanis neuron-neuron (= sel-sel saraf otak; jumlahnya 100 milyar) dalam organ otak kita, tidaklah penting apakah yang mengaktifkan bagian-bagian otak kita adalah Allah sebagai suatu konsep (=teologi/dogma/akidah), ataukah Allah sebagai suatu perasaan dalam mental kita (misalnya bahwa Allah adalah cinta), ataukah Allah sebagai suatu pengalaman rohani (misalnya pengalaman mistikal kaum sufi menyatu dengan Allah, atau pengalaman berbahasa lidah di kalangan Kristen pentakostal). Ketika Allah kita pikirkan, atau kita hayati atau kita alami dengan nyata, maka Allah ini mengaktifkan bagian-bagian tertentu otak kita, dan melalui aktivitas neurologis yang terus berulang kepribadian religius kita terbentuk. Berikut ini sketsa struktur-struktur dan sirkuit-sirkuit neurologis penting dalam organ otak manusia yang membentuk persepsi manusia mengenai Allah, dan yang sekaligus membentuk kepribadian kita sebagai manusia.

Sirkuit “Allah” dalam Otak Manusia

(1) Sirkuit occipital-parietal
Sirkuit ini, yang terdapat di bagian belakang otak, mengidentifikasi Allah sebagai suatu objek yang ada di dalam dunia. Sirkuit ini memberikan kemampuan untuk membayangkan Allah secara antropomorfis (=dalam wujud manusia). Anak-anak kecil memandang Allah sebagai sebuah wajah karena otak mereka belum dapat memproses konsep-konsep spiritual yang abstrak. Parietal lobe—bagian otak yang memproses pertanyaan tentang “apa” dan “di mana”— pada kanak-kanak sangat aktif jika mereka sedang memikirkan kodrat Allah. Dalam masa beberapa tahun permulaan kehidupan, kita umumnya membentuk paham kita sendiri yang serupa mengenai realitas spiritual, misalnya bahwa pada masa kita kanak-kanak, Allah kita bayangkan sebagai seorang tua berjenggot yang berdiam di angkasa, di suatu kawasan yang dapat dilihat.

Sejalan dengan pertambahan usia menuju dewasa dan dengan kebebasan manusia untuk menemukan diri dan spiritualitasnya kembali, otak manusia mengalami evolusi neurologis sehingga gambaran-gambaran simbolik yang makin abstrak dan makin merangsang secara emosional mengenai Allah akhirnya muncul. Menurut James Fowler (dalam bukunya Stages of Faith: The Psychology of Human Development [Harper SanFrancisco, 1981]), jika kita merenungi makna kehidupan dengan mendalam, maka gagasan-gagasan kita tentang Allah berevolusi dari gagasan-gagasan yang kongkret pindah ke kepercayaan-kepercayaan mitologis yang lebih abstrak, dan dari sini ke nilai-nilai tanggungjawab sosial yang lebih universal.

Ide-ide tentang Allah (atau ide-ide tentang hal-hal lain apapun) tidak ada yang menetap permanen dalam otak kita, tetapi sejalan dengan neuroplastisitas neuron-neuron otak kita, kita terus mengubah ide-ide ini, dan kemampuan ini menjadikan kita manusia yang unik. Neuron-neuron otak kita tidak bersifat menetap, selama masih sehat, tetapi tetap berubah sepanjang masa, karena otak kita memiliki suatu helaian DNA yang dapat bermutasi. Di samping itu, perilaku kompetitif, pengaruh lingkungan, pendidikan, atau bahkan sebuah khotbah yang membangkitkan semangat, atau sebuah teks dalam kitab suci yang dibaca, dapat memicu pembentukan kembali dengan cepat tenunan sirkuit-sirkuit neurologis dalam otak kita. Tidak ada dua orang yang mempersepsi dunia atau Allah dengan cara yang sama, sebab tidak ada dua otak manusia yang bermula dengan kode genetik yang sama.

Jika occipital lobe dan temporal lobe (berlokasi di bawah parietal lobe, di atas telinga) luka, maka orang akan merasakan sedang melihat atau mendengar segala macam fenomena yang ditafsirnya sebagai fenomena religius, mistikal atau demonik. Di bawah parietal lobe terdapat temporal lobe yang memungkinkan orang mendengarkan suara-suara Allah.

(2) Sirkuit parietal-frontal
Sirkuit ini membangun sebuah hubungan di antara dua objek yang dikenal sebagai “anda” dan “Allah.” Sirkuit ini menempatkan Allah dalam ruang dan memungkinkan anda mengalami kehadiran Allah. Jika anda mengurangi aktivitas di dalam parietal lobe melalui meditasi atau melalui doa yang khusuk, batas-batas antara anda dan Allah lenyap, dan anda merasakan suatu pengalaman mistikal telah menyatu dengan Allah, memasuki suatu suasana yang tidak dibatasi ruang dan waktu lagi. Anda merasakan suatu kesatuan dengan objek kontemplasi dan dengan kepercayaan-kepercayaan spiritual anda.

Sebaliknya, jika parietal lobe sangat aktif, orang dimungkinkan untuk membayangkan suatu Allah yang terpisah dari dirinya, yang berada di luar batas-batas keberadaan dirinya pribadi. Ketika, misalnya, seorang Kristen pentakostal karismatik terbenam dalam penyembahan intensif kepada Allah dan mulai berbahasa lidah (= glossolalia), aktivitas di sirkuit parietal meningkat tajam, dan dia mulai merasakan ada suatu “kehadiran ilahi” (=Roh Kudus) di sampingnya yang sedang berkomunikasi dengan dirinya. Ketika hal ini terjadi, aktivitas di frontal lobe menurun, tetapi sebaliknya aktivitas di kawasan sistim limbik (tentang ini, lihat di bawah) meningkat sehingga membuatnya makin terbenam ke dalam pengalaman-pengalaman emosional yang memblokir kesadaran kritis rasional.

(3) Frontal lobe(s)
Frontal lobe menjadikan kita manusia yang unik. Di bagian korteks neuron inilah berakar imajinasi, kreativitas, orisinalitas dan kemampuan bernalar dan berkomunikasi dengan orang lain, dan kemampuan untuk menjadi lebih damai, lebih berbelarasa, dan lebih termotivasi. Bagian ini memungkinkan kita untuk membuat sebuah konsep logis mengenai suatu Allah yang rasional, bijaksana dan pengasih. Jika aktivitas frontal lobe meningkat, sementara aktivitas sistim limbik menurun, maka orang akan merasakan kedamaian dan ketenteraman. Semakin orang giat dalam kegiatan intelektual, semakin kuat frontal lobe-nya.

Bagian ini menciptakan dan mengintegrasikan semua gagasan anda tentang Allah—gagasan yang positif atau gagasan yang negatif—termasuk logika yang anda gunakan untuk mengevaluasi kepercayaan-kepercayaan spiritual dan keagamaan anda. Bagian ini memprediksi masa depan anda dalam hubungan anda dengan Allah dan berupaya secara intelektual untuk menjawab semua pertanyaan “mengapa, apa, dan di mana” yang muncul di bidang-bidang spiritual. Orang yang memiliki frontal lobe yang sangat aktif dapat terbenam ke dalam usaha membuktikan keberadaan Allah secara filosofis dan matematis. Berbeda dari sirkuit occipital-parietal otak kanak-kanak, frontal lobe orang dewasa yang sudah matang bertanggungjawab menimbulkan imajinasi, kreativitas dan orisinalitas yang digunakan orang dewasa ketika mereka mencoba menggambarkan sifat-sifat abstrak non-bendawi dan misterius Allah.

(4) Thalamus
Thalamus adalah suatu stasiun pemroses besar dalam organ otak manusia: segala pengindraan, suasana atau modus dan isi pikiran melewati organ otak ini ketika informasi diteruskan ke bagian-bagian lain otak. Semakin anda terbenam ke dalam perenungan tentang suatu objek khusus, semakin aktif thalamus anda. Jika thalamus tidak berfungsi lagi, maka orang akan mengalami keadaan koma. Bahkan kerusakan kecil saja pada thalamus, akan menghambat kinerja bagian-bagian lain otak manusia.

Pada bagian inilah otak kita memberi kita kemampuan untuk merasakan sesuatu yang kita sedang pikirkan sebagai sebuah kenyataan, seolah gagasan-gagasan kita adalah suatu objek yang nyata di dalam dunia ini. Semakin anda memikirkan suatu gagasan berulang kali dan dengan sangat serius, maka thalamus memberi respons berupa sebuah impresi dalam diri anda bahwa gagasan ini adalah suatu objek nyata. Di dalam thalamus inilah makna emosional diberikan kepada pikiran-pikiran kita yang muncul di dalam frontal lobe, sehingga kita tidak ingin dipisahkan dari pikiran-pikiran kita. Sehubungan dengan agama, thalamus memberi suatu makna emosional pada konsep-konsep anda tentang Allah: organ inilah yang membuat anda mencinta Allah anda (atau sebuah gagasan anda tentang Allah) dan tidak ingin dipisahkan darinya. Thalamus memberi anda suatu makna menyeluruh mengenai dunia ini dan tampaknya merupakan suatu organ kunci yang membuat Allah terasa objektif dan nyata.

Jika thalamus terus diaktifkan melalui meditasi (yang di dalamnya kita sungguh-sungguh memikirkan gagasan-gagasan kita sebagai kenyataan riil dalam dunia objektif), maka kita akan memandang kenyataan secara berbeda dari pandangan yang normal dan biasa. Jika seorang praktisi meditasi tingkat tinggi sungguh-sungguh memikirkan dan memandang Allah, ketenteraman dan kesatuan dengan segala yang ada dalam jagat raya sebagai kenyataan-kenyataan riil dalam kehidupannya, maka (salah satu) organ thalamus-nya terus aktif (sekalipun dia tidak sedang bermeditasi) dan keadaan ini memberi kepadanya suatu kesadaran yang melampaui keadaan sadar yang biasa: pikiran-pikiran dan keyakinan-keyakinannya bukan lagi ada hanya dalam dunia gagasan, tetapi betul-betul dialaminya dengan jelas dalam dunia nyata.

(5) Amygdala
Amygdala adalah bagian otak yang paling tua dalam perjalanan sejarah evolusi biologis otak manusia, terbentuk 450 juta tahun yang lalu. Amygdala menjadi suatu bagian dari sistim limbik organ otak. Jika aktivitas amygdala meningkat, maka gelombang rasa takut dan kecemasan menyerbu anda, karena zat-zat neuro-kimiawi yang destruktif mengalir deras masuk ke dalam otak. Jika orang berpikir negatif terhadap dirinya sendiri, atau memandang kehidupan ini dengan negatif, aktivitas di amygdala makin meningkat. Ketika dirangsang secara berlebihan, amygdala menciptakan suatu impresi emosional tentang suatu allah yang menakutkan, autoritatif, dan menghukum, dan menekan serta mematikan kemampuan frontal lobe untuk berpikir logis mengenai Allah.

(6) Striatum
Struktur ini menghambat dan menekan aktivitas dalam amygdala sehingga memungkinkan anda merasa aman di dalam kehadiran Allah, atau di dalam kehadiran objek atau konsep apapun yang anda sedang kontemplasikan. Bersama dengan anterior cingulate (tentang ini, lihat di bawah), striatum mengendalikan amarah dan rasa takut. Jika aktivitas di dalam anterior cingulate dan striatum terhambat, maka amygdala mengambil kendali dan keadaan ini membangkitkan respons “tempur atau mundur” (fight or flight response) yang menyebar ke dalam setiap bagian otak anda.

(7) Anterior cingulate
Korteks ini masih berusia sangat muda, berusia 15 juta tahun dalam perjalanan sejarah evolusi biologis otak manusia, yang berlangsung bersamaan dengan evolusi kebudayaan dan pemikiran keagamaan manusia. Korteks anterior cingulate adalah “jantung” (atau “hati”) dan “jiwa” neurologis manusia. Korteks ini memainkan suatu peran yang menentukan di dalam praktek-praktek spiritual, dan terlibat dalam pembelajaran, memori, perhatian yang terfokus, pengaturan emosi, koordinasi motoris, jumlah detak jantung, pendeteksian kesalahan, pengantisipasian ganjaran, pemonitoran konflik, evaluasi moral, perencanaan strategi, empati dan kasih sayang.

Korteks ini menjadi suatu perantara atau sebuah titik tengah jungkat-jungkit antara perasaan-perasaan dan emosi-emosi yang muncul dalam sistim limbik pada satu pihak dan logika serta nalar yang diproses dalam frontal lobe pada pihak lainnya. Kesadaran sosial dan intuisi juga dibangun dalam korteks ini. Jika bagian otak ini diaktifkan terus-menerus, maka anda akan menjadi seorang yang toleran dan pluralis, dan dapat berumur panjang. Perempuan memiliki struktur anterior cingulate lebih besar ketimbang pria; karena itulah kaum perempuan umumnya lebih empatis, lebih mudah merasakan keadaan diri orang lain, lebih terampil bersosialisasi, tetapi juga lebih reaktif terhadap rangsangan-rangsangan yang menimbulkan ketakutan.

Struktur ini memungkinkan anda mengalami Allah sebagai Allah yang pengasih, penyayang dan berbela rasa. Struktur ini mengurangi kecemasan, rasa bersalah, ketakutan dan kemarahan religius dengan cara menekan aktivitas di dalam amygdala.

(8) Sistim limbik
Sistim ini terdiri atas amygdala, hippocampus, hypothalamus, dan thalamus, selain bagian-bagian lain yang tidak diperlihatkan dalam gambar. Jika sistim limbik makin aktif, intensitas emosional meningkat. Orang yang memiliki sistim limbik yang sangat aktif dapat terbenam ke dalam perenungan tentang ajaran tentang dosa warisan yang bermula dari suatu Allah pemurka terhadap nenek moyang manusia. Allah yang tercipta dalam sistim limbik adalah Allah yang kejam, keras, agresif, pemarah, pendendam, penghukum dan menakutkan. Selain itu, orang yang memiliki sistim limbik yang sangat aktif mudah terserang penyakit jantung dan penyakit otak; dan karenanya akan berumur pendek (tetapi tentu tidak selalu demikian).

Pengalaman spiritual
Pengalaman spiritual seseorang, entah pengalaman yang nyata atau yang dibayang-bayangkan saja, mengubah neuron-neuron di organ otaknya sehingga orang ini memandang kenyataan dan hubungan dirinya dengan dunia berbeda secara signifikan dari sebelumnya. Dibandingkan kemampuan alam sadar yang memproduksi pandangan tentang kenyataan secara terbatas dan terfragmentasi, proses tak sadar dalam otak manusia melahirkan pandangan yang lebih menyeluruh atas kenyataan.

Pengalaman-pengalaman spiritual mendorong bekerjanya sistem saraf otak yang membangkitkan perasaan seseorang (sistem saraf simpatetis) dan yang menenangkan batinnya (sistem saraf parasimpatetis). Pengalaman spiritual sangat beraneka ragam dan distimulasi oleh (dan menstimulasi) beraneka ragam aktivitas neurologis dalam lebih dari satu bagian organ otak manusia. Dan setiap orang memiliki “sidik jari” neurologis yang unik di dalam otaknya yang menggambarkan Allah yang dipercayanya. Hampir tidak ada seorangpun menggunakan kata-kata, frasa-frasa, atau ungkapan-ungkapan yang sama dengan yang dipakai orang lain dalam mendeskripsikan pengalaman spiritual berjumpa dengan suatu Allah. Setiap pengalaman keagamaan dan pengalaman spiritual adalah unik, karena tidak ada satupun helaian DNA otak manusia yang sama dengan helaian DNA otak manusia lainnya dan juga karena perbedaaan kebudayaan yang membesarkan dan membentuk kesadaran kognitif setiap manusia.

Bisa terjadi bahwa teks-teks suci yang berbeda-beda pada hakikatnya menggambarkan suatu pengalaman rohani universal, tetapi ketika pengalaman ini ditulis, penulisannya menggunakan bahasa yang unik, yang diangkat dari kebudayaan dan denominasi organisasi keagamaan masing-masing penulisnya yang berlain-lainan. William James (dalam bukunya The Varieties of Religious Experience: A Study in Human Nature [Longman, 1902]) berpendapat bahwa pengalaman-pengalaman spiritual manusia dalam perjalanan sejarah relatif tetap konsisten. Neurosains juga menemukan bahwa otak manusia selama ribuan tahun telah melahirkan secara spontan pengalaman-pengalaman spiritual dan mistikal. Meskipun ada suatu elemen universal dalam setiap agama, namun manusia tidak memiliki kemampuan linguistik untuk mengekspresikan pengalaman-pengalaman ini dengan tingkat akurasi yang tinggi, sehingga terciptalah keanekaragaman gagasan-gagasan teologis.

Orang fundamentalis
Jika orang terlibat terus-menerus dalam kegiatan-kegiatan keagamaan yang terfokus pada kemarahan dan rasa takut yang mengaktifkan organ amygdala dalam otak, seperti terjadi pada kalangan beragama fundamentalis, anterior cingulate akan mengalami kerusakan permanen. Jika hal ini terjadi, seorang fundamentalis religius akan kehilangan rasa peduli pada orang lain dan akan menyerang orang lain dengan sangat agresif. Jika anda mengharapkan suatu kejadian negatif di masa depan yang mengancam nyawa banyak orang, maka aktivitas di anterior cingulate akan menurun dan sebaliknya aktivitas di amygdala meningkat. Keadaan neurologis semacam ini menimbulkan kecemasan dan neurotisisme sangat tinggi. Orang yang menderita keadaan mental semacam ini akan tertarik pada agama-agama fundamentalis karena agama-agama sejenis ini menawarkan suatu sistem kepercayaan religius yang sangat terstruktur yang mengurangi perasaan-perasaan serba tidak pasti, dan yang memungkinkannya untuk menyalurkan semua dorongan agresif yang dibangkitkan oleh amygdala.

Sebaliknya, jika anda ingin memiliki anterior cingulate, frontal cortex dan sistim limbik yang sehat, anda perlu dengan teratur melakukan meditasi atau tekun berdoa, dengan terus-menerus merenungi konsep-konsep yang dapat membawa anda masuk ke dalam cinta kasih, sukacita, toleransi, optimisme dan pengharapan. Dengan bermeditasi secara teratur dan terus-menerus, otak akan semakin sehat, sebab melalui meditasi otak kita melawan kecenderungan biologis manusia untuk bereaksi penuh amarah dan permusuhan terhadap situasi-situasi yang berbahaya dan yang mengancam.

Orang ateis
Jika orang berkontemplasi tentang Allah, Allah dapat dirasakannya tidak bermakna atau tidak bernilai; hal ini disebabkan oleh tidak aktifnya frontal lobe dan sistim limbik dalam otak. Orang dapat tidak beragama atau menjadi ateis jika frontal lobe dan sistim limbik tetap dibiarkan tidak aktif ketika kepadanya diajukan soal-soal spiritual. Kalangan ateis mengalami pola aktivitas neuron otak yang berbeda-beda dari satu orang ke orang lainnya ketika mereka memikirkan konsep tentang Allah. Jadi, apa yang dinamakan “God spot” yang terpatri dalam organ otak kita sebetulnya tidak ada.

Kalau pun terdapat neuron-neuron dalam organ otak kita yang sensitif terhadap Allah, sehingga dapat disebut sebagai “God neuron”, neuron-neuron ini tidak dapat dilokalisasi secara statis dan permanen di satu tempat, tetapi terdapat di tempat-tempat yang berbeda dari orang yang satu ke orang lainnya. Bagi orang yang satu, neuron semacam ini dapat berkaitan dengan perasaan senang dan terpesona; tetapi bagi orang lainnya, dengan perasaan kecewa dan dengan rasa sakit. Ihwal siapa dan bagaimana Allah bagi anda, bergantung pada pola neurologis khas yang terbentuk di otak anda, dan pola ini berkorelasi dengan gaya perilaku emosional pribadi anda. Juga bisa ada orang yang tidak memiliki sirkuit neurologis apa pun yang memungkinkannya mengonstruksi suatu citra positif atau suatu citra negatif mengenai Allah. Untuk orang semacam ini yang tidak memiliki “God neuron”, dia harus mencari makna dan tujuan kehidupannya di bidang-bidang lain, misalnya melalui pengabdian diri dalam dunia sains dan melalui pelayanan karitatif advokatif kepada umat manusia dan semua makhluk hidup lainnya.

“Dua binatang” dalam otak manusia
Memakai sebuah metafora, ada dua binatang di dalam otak kita, yakni satu binatang jahat dan satu binatang baik. Bagaimana sifat otak kita, dan dengan demikian juga bagaimana sifat kepribadian dan orientasi religius kita, ditentukan oleh binatang mana yang kita beri makan paling banyak sehingga menjadi jauh lebih besar dari binatang yang satunya lagi. Binatang jahatnya berdiam dalam sistim limbik otak kita; dan binatang baiknya ada dalam struktur frontal lobes dan anterior cingulate.

Sistim limbik, yang di dalamnya terdapat amygdala, terbentuk sudah sangat lama dalam sejarah evolusi otak manusia, yakni 450 juta tahun yang lalu, dan sudah menguasai kehidupan manusia sejak 150 juta tahun yang lalu. Jika sistim limbik terlalu aktif dan organ amygdala menguasai semua kegiatan neurologis, dan frontal lobe serta anterior cingulate tidak mengambil alih kendali atas kegiatan neurologis dalam otak, maka Allah yang dimunculkan adalah Allah yang keras, kejam, egoistik, agresif, pendendam, pemarah, penghukum, menakutkan dan mematikan; dan orang yang membesarkan Allah semacam ini di otaknya juga tumbuh menjadi seorang fundamentalis yang agresif sebagaimana juga sifat Allah yang dipujanya.

Sebaliknya, jika frontal lobes dan anterior cingulate (yang berusia masih muda dalam sejarah evolusi biologis otak manusia) dilatih terus-menerus untuk aktif mengendalikan semua aktivitas neurologis dalam otak kita, dan kita terus-menerus memberinya makanan berupa konsep-konsep, perasaan-perasaan dan pengalaman-pengalaman kehidupan yang berisi cinta kasih, empati, kepercayaan, bela rasa, logika rasional, nalar, toleransi, kesadaran dan tanggungjawab sosial, maka Allah dalam neuron-neuron otak kita adalah Allah yang maha pengasih dan penyayang, penuh kemurahan, empatis, penyabar, pelindung, dan terbuka untuk dikaji dan dipikirkan oleh akal dan dibaharui oleh akal. Orang yang memiliki frontal lobes dan anterior cingulate yang aktif akan menjadi orang beragama yang liberal, kritis, rasionalis, progresif, terbuka, toleran, berbela rasa dan pluralis, dan karenanya akan lebih mungkin berumur panjang (tetapi tentu tidak selalu demikian).

Masa depan Allah
Gagasan tentang Allah terus berevolusi dalam perjalanan sejarah makhluk homo sapiens sapiens: semula nenek moyang makhluk cerdas ini memandang Allah sebagai suatu Allah yang authoritarian dan pemarah serta penghukum, tetapi kemudian gagasan ini lambat laun berevolusi sehingga muncullah konsep tentang Allah yang bijaksana, pengasih dan penyayang. Evolusi kultural pemikiran tentang Allah ini mengikuti evolusi neurologis dalam organ otak manusia. Karena evolusi dalam kebudayaan dan organ otak manusia terus berlangsung, maka gagasan dan pengalaman tentang Allah tidak akan lenyap di masa depan peradaban manusia. Tetapi Allah di masa depan tentu tidaklah harus sama dengan Allah yang digambarkan dalam kitab-kitab suci kita sekarang. Allah masa depan adalah Allah yang penuh misteri, yang tidak dapat ditangkap oleh kata-kata manusia, tetapi dialami oleh manusia dalam suatu pengalaman kesatuan mistikal yang tak dapat diekspresikan oleh kata-kata manusia, dan karenanya orang akan berbicara bukan lagi tentang agama-agama lembaga yang terkotak-kotak, tetapi tentang spiritualitas yang sangat kaya dengan makna, nilai, tujuan, dan simbol-simbol yang dihayati melalui jalan-jalan yang majemuk dan tak terhabiskan. Allah masa depan akan memegang banyak peran dan mentransendir banyak tafsiran tradisional atas teks-teks suci keagamaan. Allah masa depan, karenanya, adalah sebuah metafora yang tak pernah habis dimaknai dan diungkap, jika memang dapat dimaknai dan dapat diungkap, dalam usaha manusia mencari kebenaran dan makna yang paling mendasar buat kehidupannya.

Evaluasi
Sudah menjadi suatu pandangan umum di kalangan orang beragama bahwa sains dan agama tidak bisa dipertemukan, keduanya selalu bertentangan. Sains terfokus pada kajian-kajian terhadap segala sesuatu yang objektif dan empiris; sedangkan agama terfokus pada kepercayaan atau iman tanpa bukti objektif empiris apapun tentang adanya suatu Allah (atau banyak Allah) dan dunia supernatural. Sains berkutat dalam dimensi logismos (=logika), sedangkan agama dalam dimensi pistis (=iman). Pandangan ini sebenarnya sangat keliru, sebab agama dan kepercayaan keagamaan bisa dikaji secara ilmiah. Dewasa ini minimal ada tiga bidang ilmu yang menjadikan agama dan kepercayaan keagamaan sebagai objek-objek kajian ilmiah objektif.

Pertama, adalah kajian di bidang ilmu-ilmu sosial seperti sosiologi agama dan antropologi kultural. Kedua bidang ilmu sosial ini memperlakukan agama dan kepercayaan keagamaan sebagai fenomena sosiologis dan antropologis dan karenanya terbuka untuk dikaji secara ilmiah. Apapun klaim orang beragama tentang agamanya (misalnya bahwa agamanya “diturunkan” dari langit sebagai wahyu ilahi, dan karenanya bukan buatan atau ciptaan manusia), setiap agama, dilihat dari kajian sosial, memiliki unsur-unsur sosiologis antropologis buatan manusia, yang terbuka untuk dikaji secara ilmiah, objektif dan empiris. Secara objektif, setiap agama memiliki lima unsur sosiologis empiris yang membuatnya setara dengan organisasi-organisasi sosial lainnya, yakni 5 unsur K: komunitas sosial, kultus ritual, kanon (= kitab suci), kode etik moral, dan kredo. Kelima unsur ini menjadikan setiap agama terbuka untuk dikaji secara sosial antropologis, yakni mengenai asal-usul sosiologis kulturalnya, sejarahnya, konteks sosio-budayanya, strategi beradaptasinya, strategi pertahanan dirinya, agenda perjuangannya, arah dan tujuannya, ideologi atau pandangan dunia-nya (world view), nilai-nilai sosio-kulturalnya, tantangannya, kepemimpinannya, perilaku sosial anggota-anggotanya, karya-karyanya, kehidupan ekonomi anggota-anggotanya, relasi antara pengalaman kehidupan sosial, ideologi dan kepercayaannya pada hal-hal supernatural, dlsb.

Kedua, adalah psikologi agama, yang secara ilmiah mengkaji setiap fenomena keagamaan sebagai suatu fenomena yang bersumber pada dan berkaitan dengan kondisi-kondisi psikologis umat (individual maupun kolektif) yang menganutnya, yang hidup dalam suatu konteks sosial yang memengaruhi dan dipengaruhi oleh kondisi-kondisi psikis ini. Psikologi agama memperlakukan semua pengalaman keagamaan sebagai pengalaman psikologis manusia, inheren dalam jiwa manusia, terlepas dari ada atau tidak adanya suatu Allah supernatural yang dipercaya umat beragama.

Ilmu yang ketiga berkait erat dengan psikologi agama, yakni neurosains (atau neurobiologi). Neurosains adalah suatu kajian ilmiah terhadap otak manusia dan sistim saraf rumit yang bekerja di dalamnya. Kalau neurosains diterapkan pada agama dan semua gejala spiritual, ilmu terapannya ini dinamakan neuroteologi. Nah, buku yang isi pokoknya sudah dikemukakan di atas adalah buku tentang neurosains dan neuroteologi, yang ditulis oleh dua orang neurosaintis terpandang, Andrew Newberg dan Mark Robert Waldman. Kita tentu harus berterima kasih kepada keduanya.

Neurosains dan neuroteologi tidak bisa membuktikan apakah Allah secara objektif ada atau tidak ada sebagai suatu realitas supernatural. Tetapi uraian di atas telah memperlihatkan kepada kita bahwa semua pengalaman keagamaan dan setiap perilaku keagamaan (entah yang bercorak fundamentalis pemberang ataupun yang bercorak liberal pengasih) dapat dicari sumber-sumbernya pada aktivitas neuron-neuron otak manusia dan pada bagian-bagian struktural otak manusia yang sudah terbentuk selama perjalanan panjang evolusi biologis otak manusia. Ada atau tidak adanya Allah secara objektif sebagai suatu realitas adikodrati, otak manusia memampukan manusia untuk membangun sebuah agama dan memikirkan serta memilih sifat-sifat Allah yang diperlukannya, yang dipandangnya dapat membuat dirinya bertahan dalam lingkungan alam dan lingkungan kebudayaannya sendiri.

Karena setiap kehadiran suatu bentuk agama berdampak pada kehidupan masyarakat sepanjang sejarahnya, maka kita yang mencintai kehidupan, bukan kematian dan kehancuran di muka Planet Bumi, tentu perlu mengarahkan kehidupan agama kita ke arah yang benar, yakni agama kita harus menghasilkan ketahanan kehidupan yang baik untuk semua spesies di planet ini. Kita perlu memompa gagasan-gagasan tentang suatu Allah yang maha baik dan maha berbela rasa dan maha bijaksana ke dalam organ otak kita sehingga aktivitas di frontal lobes dan di anterior cingulate terus meningkat, dan aktivitas neurologis kuat di bagian-bagian organ otak ini pada gilirannya semakin membentuk kepribadian sosio-religius kita yang terbuka pada cinta kasih, tanggungjawab sosial, toleransi, empati, pluralisme, kesatuan umat manusia, kemajemukan religiokultural, kecerdasan religius, dan rasionalitas manusia serta sains.

Dr. Ioanes Rakhmat

Acara bedah buku Krispro
Grand ITC Permata Hijau, Jakarta Selatan
09 Agustus 2010



Saturday, July 31, 2010

Tafsir atas Homoseksualitas dalam Kitab Suci Gereja

Tafsir atas Homoseksualitas dalam Kitab Suci Gereja**

Terdapat kurang lebih 20 rujukan ke homoseksualitas atau ke perilaku homoseksual dalam kitab suci gereja (Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru). Tujuh di antaranya adalah teks-teks yang menurut kalangan Kristen evangelikal (= konservatif) merupakan teks-teks yang sangat jelas melarang dan mengutuk homoseksualitas atau perilaku homoseksual, yakni Kejadian 19; Imamat 18:22; Imamat 20:13; Roma 1:26-27; 1 Korintus 6:9-10; 1 Timotius 1:9-10; Yudas 1:7. Tetapi kalangan Kristen liberal (progresif) mengajukan tafsiran yang berbeda atas teks-teks ini. Berikut ini tinjauan singkat atas tujuh teks ini dan tafsiran yang diberikan masing-masing kalangan Kristen ini terhadap ketujuhnya.

Kejadian 19
Perikop ini mengisahkan tentang niat Tuhan untuk memusnahkan kota Sodom (dan Gomora) karena (kedua) kota ini konon sangat besar dosanya dan durjana (18:20; 19:15). Dua orang lelaki (=malaikat) diutus Tuhan untuk menyelidiki keadaan kota ini. Ketika mereka sudah tiba di Sodom, mereka diterima oleh Lot dan diberi tumpangan di rumahnya pada malam hari itu juga. Tetapi semua lelaki dari seluruh kota ini, tua dan muda (19:4), pada malam itu mendatangi rumah Lot dan mengepungnya. Mereka memaksa Lot untuk menyerahkan kedua tamunya itu kepada mereka untuk mereka “sodomi” (Ibrani: yada= mengetahui, berhubungan seksual). Tetapi Lot melindungi mereka, bahkan dia sampai rela menawarkan dua anak perawannya kepada mereka sebagai pengganti dua orang asing tamunya itu. Ketika keadaan sudah genting, dua tamu itu menarik Lot ke dalam rumahnya, dan mereka membutakan mata orang banyak yang mau mendobrak pintu rumahnya itu sehingga mereka tidak bisa menemukan pintu masuk. Kisahnya berakhir dengan pemusnahan kedua kota ini melalui letusan gunung berapi, dan hanya Lot beserta keluarganya diluputkan dari bencana ini.

Dalam pandangan kalangan Kristen evangelikal, Tuhan melenyapkan kota Sodom (dan Gomora) karena kaum lelaki penduduknya mempraktekkan hubungan homoseksual. Dengan demikian, dalam pandangan mereka, Tuhan mengutuk dan menghukum segala jenis homoseksualitas. Tetapi kalangan Kristen liberal menolak tafsiran semacam ini. Bagi mereka, teks ini tidak memberi petunjuk jelas apapun tentang bentuk kedurjanaan dan dosa kota Sodom. Sebaliknya teks dengan jelas menyatakan apa sebab-musabab kaum lelaki Sodom mau “menyodomi” dua tamu Lot itu, yakni karena mereka menilai keduanya adalah orang asing yang mau menjadi hakim atas mereka (19:9). Dalam zaman kuno di kawasan Timur Tengah, raja-raja dari suku-suku bangsa yang ditaklukkan kadangkala diperkosa lewat anus oleh pasukan yang menyerbu masuk sebagai tanda kekalahan dan penghinaan atas mereka. Pemerkosaan secara anal ini juga adalah suatu cara untuk menghina dan merendahkan para wisatawan dan orang asing, dan sekaligus untuk menunjukkan kekuatan dan dominasi penduduk asli dan pihak pemenang. Kalaupun dua tamu Lot itu menilai niat kaum lelaki Sodom untuk memperkosa mereka secara anal sebagai suatu dosa, dosa ini bukanlah dosa homoseksualitas, melainkan dosa memperkosa orang asing yang bertujuan untuk menghina mereka dan untuk memperlihatkan kekuatan dan dominasi para pemerkosa.

Imamat 18:22
“Janganlah engkau tidur dengan laki-laki sama seperti engkau bersetubuh dengan seorang perempuan, karena hal itu suatu kekejian.”

Bagi kalangan Kristen evangelikal, teks ini, dengan dilepaskan dari konteks tulisannya, dengan tegas melarang hubungan seksual antar sesama lelaki melalui anus. Tetapi bagi kalangan liberal, teks ini tidak berbicara tentang larangan hubungan homoseksual secara umum. Jika ditempatkan dalam konteks sastranya dan dalam konteks religius pada masanya, teks ini ternyata mau menyatakan sesuatu yang lain.

Pasal-pasal sebelum dan sesudah teks ini secara meluas berbicara mengenai idolatri (=penyembahan kepada berhala). Imamat 18:6-18 memuat larangan terhadap berbagai macam incest; ayat 19 berisi larangan bersetubuh dengan seorang perempuan yang sedang haid. Ayat 20 memuat larangan perzinahan. Persis pada ayat 21 kita baca larangan mempersembahkan anak-anak kepada suatu dewa pagan yang bernama Molokh; lalu setelah ayat 22 (lihat teks di atas) menyusul ayat 23 yang memuat larangan perkelaminan dengan binatang, baik oleh lelaki maupun oleh perempuan dari antara orang Israel. Sesudah itu menyusul ayat-ayat 24-30 yang dengan sangat jelas menyebut bahwa semua larangan yang telah disebut sebelumnya telah dilakukan oleh “bangsa-bangsa” lain, yang sama sekali tidak boleh diikuti oleh bangsa Israel.

Di dalam kuil-kuil dewa pagan, khususnya kuil dewa pagan Molokh, terdapat pelacur-pelacur bakti (lelaki atau pun perempuan dewasa, dan juga anak-anak lelaki dan anak-anak perempuan) yang dalam ritual penyembahan kepada sang dewa melakukan aktivitas persetubuhan. Ritual seksual semacam ini melibatkan kegiatan hubungan homoseksual. Para penyembah dewa ini percaya bahwa jika mereka melakukan persetubuhan dengan para pelacur bakti ini di dalam kuil Molokh, maka mereka, pasangan mereka, ternak mereka dan lahan garapan mereka, akan mengalami peningkatan kesuburan dan berbuah-buah. Dengan latarbelakang ritual religius paganisme semacam ini, yang marak dilakukan pada masa Israel kuno, Imamat 18:22 jelas tidak berbicara mengenai larangan dan penolakan terhadap homoseksualitas secara umum, tetapi terhadap ritual pelacuran bakti yang dilaksanakan di kuil-kuil dewa-dewa pagan oleh bangsa-bangsa lain yang mengitari bangsa Israel. Larangan semacam ini ditulis dengan eksplisit dalam Ulangan 23:17 (“Di antara anak-anak perempuan Israel janganlah ada pelacur bakti [Ibrani: quedeshaw], dan di antara anak-anak lelaki Israel janganlah ada semburit bakti [Ibrani: quadesh].” Quadesh bertindak sebagai representasi simbolik Dewa; dan quedeshaw sebagai representasi simbolik Dewi).

Imamat 20:13
“Jika seorang laki-laki tidur dengan seorang laki-laki seperti dia bersetubuh dengan seorang perempuan, keduanya telah melakukan suatu kekejian, dan pastilah mereka dihukum mati dan darah mereka tertimpa kepada mereka sendiri.”

Teks ini juga memiliki konteks ritual pelacuran bakti di kuil-kuil dewa-dewa pagan, khususnya Dewa pagan Molokh (20:1-7), yang melibatkan aktivitas persetubuhan homoseksual yang dilakukan untuk mendapatkan kesuburan. Bangsa Israel dilarang keras meniru praktek ritual pagan semacam ini, dan jika mereka melakukannya, mereka akan dihukum mati. Dalam kehidupan bangsa Israel kuno, hukuman mati kadang dijatuhkan kepada orang Israel yang melakukan suatu pelanggaran ritual, di antaranya menyembah allah-allah lain, mengumpulkan kayu api pada hari Sabat (Bilangan 15:32-36), memakan persembahan-persembahan ritual dengan cara yang tidak pantas (Bilangan 18:32), bertindak sebagai imam dengan cara yang tidak sah (Bilangan 3:10).

Roma 1:26-27
“Karena itu Allah menyerahkan mereka kepada hawa nafsu yang memalukan, sebab isteri-isteri mereka menggantikan persetubuhan yang wajar dengan yang tidak wajar. Demikian juga suami-suami meninggalkan persetubuhan yang wajar dengan isteri mereka dan menyala-nyala dalam berahi mereka seorang terhadap yang lain, sehingga mereka melakukan kemesuman (Yunani: hē askhēmosunē), lelaki dengan lelaki, dan karena itu mereka menerima dalam diri mereka balasan yang setimpal untuk kesesatan mereka.”

Surat Roma ditujukan Rasul Paulus kepada orang-orang Kristen yang berdiam di Roma (1:7). Mereka terbenam dalam kebudayaan Romawi di mana perilaku homoseksual ditemukan di mana-mana dan diterima oleh masyarakat. Dalam paganisme kota Roma, orang melakukan ibadah dan ritual kesuburan di kuil-kuil dewa-dewa dan di kultus-kultus misteri, dengan di dalamnya aktivitas pesta-pora seksual dilaksanakan secara gila-gilaan. Dengan bantuan anggur, berbagai macam obat perangsang, musik dan dukungan hadirin, para peserta ritual kesuburan ini terbawa masuk ke dalam keadaan mabuk dan gila-gilaan, yang mendorong mereka tanpa kendali melampiaskan hasrat birahi mereka dalam suatu hubungan seksual yang tidak normal. Inilah konteks religius kultural teks Roma 1.

Sebutan “hawa nafsu yang memalukan” dalam teks Roma 1:26 mengacu kepada keadaan mabuk dan gila-gilaan ini yang dialami oleh sejumlah orang di jemaat Roma, yang telah meninggalkan kekristenan lalu menganut paganisme kota Roma (1:18-23). Semula mereka alamiahnya adalah perempuan-perempuan heteroseksual dan laki-laki heteroseksual. Tetapi, ketika mereka sudah beralih ke paganisme kota Roma dan ambil-bagian dalam ritual-ritual kesuburan pagan, perilaku seksual mereka berubah: kaum perempuan heteroseksual menjadi lesbian, dan kaum lelaki heteroseksual menjadi gay. Paulus menyebut bahwa mereka menerima “balasan yang setimpal”; ini tampaknya mengacu kepada penyakit kelamin yang telah menjadi epidemik di kalangan peserta kultus kesuburan Paganisme kota Roma. Nah, kalangan inilah yang dikecam dan diperingati Rasul Paulus dalam Roma 1:26-27 sebagai kalangan yang bermoral bobrok dan patut dihukum mati (1:28-32).

Rasul Paulus hidup pada zaman pra-modern yang pra-ilmiah, yang belum mengenal kajian ilmiah atas orientasi dan perilaku seksual manusia, yang baru dilakukan pada akhir abad XIX. Konsep “orientasi seksual” bawaan lahir belum dikenal oleh Rasul Paulus. Jadi, sangatlah tidak tepat jika kalangan Kristen evangelikal memakai teks Roma 1:26-27 untuk menolak dan mengutuk homoseksualitas secara umum. Pada pihak lain, pada tahun 1973 American Psychiatric Association (APA) mencabut homoseksualitas dari Manual Statistik dan Diagnostik Penyakit Mental, dan dengan demikian menolak definisi homoseksualitas sebelumnya sebagai suatu penyakit mental klinis.

1 Korintus 6:9-10
“Atau tidak tahukah kamu bahwa orang-orang yang tidak adil tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Allah? Janganlah sesat! Orang cabul, penyembah berhala, orang berzinah, banci [malakoi], orang pemburit [arsenokoitai], pencuri, orang kikir, pemabuk, pemfitnah dan penipu tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Allah.”

Kata-kata Yunani untuk kata-kata “banci” dan “orang pemburit” (yang dipakai dalam Alkitab Terjemahan Baru Lembaga Alkitab Indonesia) adalah malakoi dan arsenokoitai. Ihwal apa yang dimaksud dengan kata-kata ini dalam pikiran Rasul Paulus, masih terus diperdebatkan. Kalangan Kristen evangelikal menafsirkan kedua kata ini overall sebagai homoseksual dalam arti seumumnya (bdk terjemahan arsenokoitai sebagai “homosexual offenders” dalam Alkitab New International Version [NIV] yang terjemahannya sarat dengan pandangan kekristenan evangelikal). Menurut mereka, para homoseksual tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Allah, atau dengan kata lain mereka akan masuk neraka setelah kematian. Jelas, ini bukanlah sebuah tafsiran yang tepat.

Jika Rasul Paulus (menulis surat 1 Korintus sekitar tahun 55 M) bermaksud mengacu ke homoseksual, dia akan memakai sebuah kata Yunani lain yang standard, yakni kata paiderasste yang menunjuk kepada orang yang berperilaku homseksual antara lelaki dengan lelaki. Septuaginta (LXX) (terjemahan Perjanjian Lama ke dalam bahasa Yunani yang dibuat antara abad III dan abad I SM) menerjemahkan kata Ibrani quadesh dalam 1 Raja-raja 14:24; 15:12; dan 22:46 ke dalam suatu kata Yunani yang kurang lebih serupa dengan kata arsenokoitai. Perikop ini dalam LXX ini mengacu ke para “pelacur lelaki yang bekerja di kuil”, yaitu kaum pria yang terlibat dalam ritual seksual di dalam kuil-kuil pagan (Indonesia: pemburit bakti). Beberapa pemimpin lain gereja perdana berpikir bahwa surat 1 Korintus juga mengacu ke para pemburit bakti di kuil-kuil pagan. Ada juga yang berpendapat bahwa arsenokoitai sebetulnya mengacu kepada para pelacur laki-laki yang menerima pelanggan perempuan, suatu pekerjaan yang tampaknya umum dilakukan di dalam kekaisaran Romawi.

Malakoi (yang diterjemahkan sebagai “banci” dalam Alkitab TB LAI) sebetulnya mengacu ke seorang lelaki muda atau seorang anak lelaki yang terlibat dalam hubungan seksual lewat anal dengan seorang lelaki dewasa yang memilikinya sebagai budaknya. Malakoi adalah mitra seks seorang pria dewasa yang kaya raya. Dengan demikian, istilah yang kedua, arsenokoitai, dapat mengacu ke lelaki dewasa yang memiliki seorang budak yang dijadikan mitra seksualnya pada saat si lelaki dewasa ini berhasrat melampiaskan nafsu syahwatnya. Praktek seksual semacam ini, antara tuan dan budak lelaki, antara seorang pedofili dan korbannya, biasa dijumpai dalam dunia Yunani-Romawi pada era permulaan kekristenan.

Jelaslah, dalam 1 Korintus 6:9-10 Rasul Paulus tidak sedang mengecam dan mengutuk orang-orang yang memiliki orientasi homoseksual, baik laki-laki maupun perempuan. Yang ditolak olehnya adalah para praktisi hubungan seksual dalam ritual-ritual kesuburan di kuil-kuil pagan, atau, orang-orang lelaki kaya yang memperlakukan budah-budak lelakinya sebagai tempat melampiaskan nafsu syahwat mereka. Jelas, Rasul Paulus menyamakan kedudukan kedua belah pihak ini, yakni sebagai orang-orang yang tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Allah, padahal anak-anak lelaki yang menjadi budak-budak pemuas nasfu seksual para tuan mereka adalah korban-korban yang patut diberi pertolongan.


1 Timotius 1:9-10
“… yakni dengan keinsafan bahwa hukum Taurat itu bukanlah bagi orang yang benar, melainkan bagi … orang cabul dan pemburit [arsenokoitēs], bagi penculik, bagi pendusta,…”

Pandangan negatif Rasul Paulus terhadap arsenokoitēs (yang dituangkannya dalam surat 1 Korintus pada tahun 55 M) tetap dipertahankan dalam surat 1 Timotius, salah satu surat pastoral yang ditulis oleh para penjaga dan penafsir warisan teologis Paulus (dua lainnya adalah 2 Timotius dan Titus) antara tahun 100–150 M, yakni paling jauh 85 tahun setelah Paulus dieksekusi. Bagi penulis surat 1 Timotius, perilaku arsenokoitēs bertentangan dengan “ajaran yang sehat” yang disusun berdasarkan “injil Allah” (ayat 10,11).

Yudas 1:7
“… sama seperti Sodom dan Gomora dan kota-kota sekitarnya, yang dengan cara yang sama melakukan percabulan dan mengejar kepuasan-kepuasan yang tak wajar, telah menanggung siksaan api kekal sebagai peringatan kepada semua orang.”

Sama seperti Kejadian 19 tidak menyatakan dengan spesifik apa dosa kota Sodom, Yudas 1:7 juga tidak dengan spesifik menyatakan apa yang disebut penulisnya sebagai “kepuasan-kepuasaan yang tak wajar.” Frasa Yunani dari frasa “kepuasan-kepuasan yang tak wajar” dalam teks ini adalah sarkos heteras, yang secara harfiah, karena direndengkan dengan “percabulan” (Yunani: pornea), dapat diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia sebagai “nafsu daging yang lain” atau “hasrat seksual yang tidak wajar” atau “hasrat seksual yang menyimpang” atau “berahi terhadap sesama lelaki.” Penulis Surat Yudas menempatkan perilaku seksual yang menyimpang ini dalam konteks peristiwa pemusnahan kota Sodom dan Gomora seperti dikisahkan dalam Kejadian 19 (lihat permulaan tulisan ini). Dengan demikian, dapat dipikirkan bahwa sarkos heteras ini adalah keinginan penduduk laki-laki kota Sodom untuk memperkosa dua malaikat yang mengunjungi kota mereka. Keinginan ini sesungguhnya adalah suatu penyimpangan, karena mereka ingin menggagahi dua malaikat tuhan secara seksual, padahal mereka adalah manusia biasa sementara malaikat adalah makhluk bukan-manusia. Sebuah legenda Yahudi kuno mengisahkan bahwa perempuan-perempuan Sodom terlibat hubungan seksual dengan para malaikat. Jadi, yang dikecam dan dikutuk oleh penulis Surat Yudas bukanlah homoseksualitas, tetapi keinginan penduduk Sodom untuk bersetubuh dengan makhluk bukan manusia. Dalam hukum Taurat terdapat larangan keras bersetubuh dengan binatang (Imamat 18:23).

Penutup
Tidak satu pun dari tujuh teks utama tentang homoseksualitas dalam kitab suci gereja yang telah dikupas singkat di atas mengutuk homoseksualitas
dan perilaku homoseksual jika homoseksualitas ini dipahami sebagai suatu orientasi genetik seksual seseorang dan jika perilaku homoseksual ini dipandang sebagai suatu relasi homoseksual antar kalangan gay atau antar kalangan lesbian yang dibangun karena kesepakatan kedua mitra, yang dilandasi cinta dan dijaga oleh komitmen untuk membangun suatu persekutuan hidup yang langgeng.

Masih ada sejumlah teks lain dalam Alkitab yang bisa diacu dalam rangka kajian terhadap homoseksualitas, yakni Kejadian 1:28; Kejadian 2:18; Kejadian 2:23-24; Kejadian 9:20-29; Ulangan 23:17; 1 Raja-raja 14:24; 15:12; 22:46; 2 Raja-raja 23:7; Hakim-hakim 19:14-29; Matius 8:5-13; Matius 19:4-5; Matius 19:10-12.


Oleh: Ioanes Rakhmat


** Makalah pengantar dalam acara diskusi kritis ttg homoseksualitas yang diadakan oleh Jaringan Islam Liberal pada 26 Juli 2010 di Jalan Utan Kayu 68H, Jakarta. Footnotes akan segera disusulkan.



Tuesday, May 25, 2010

Kurban Yesus dalam Surat Ibrani

Author: Ioanes Rakhmat

Penulis Surat kepada Orang Ibrani (selanjutnya ditulis: Surat Ibrani) melihat dirinya sedang berada di antara dua masa, yakni zaman akhir (epeskhatou tōn hēmerōn [1:2], atau episunteleiai tōn aiōnōn [9:26]) dan saat kedatangan kembali Yesus (9:28b). Dalam pandangannya, zaman akhir adalah zaman ketika Allah berbicara kepada manusia melalui perantaraan Anak-Nya, yaitu Yesus (1:2); dan baginya “sudah dekat” (10:25, 37) saatnya Yesus akan datang lagi “untuk menganugerahkan keselamatan kepada mereka yang menantikan Dia” (9:28b).


kemah ritual kurban dalam agama Israel kuno

Di antara dua masa ini, orang-orang Ibrani penerima suratnya ini diindikasikan olehnya sedang mengalami banyak penderitaan dan kesulitan (10:31-34). Dalam situasi berat semacam ini, si penulis meminta mereka untuk “jangan melepaskan kepercayaan” (10:35), “jangan lemah dan jangan berputus asa” (12:3), tetapi tetap “hidup oleh iman” (10:38). Untuk menggambarkan ihwal bagaimana hidup beriman, si penulis dalam pasal 11 merujuk ke sejumlah orang beriman yang hidup dalam zaman purbakala dan dalam sejarah Israel kuno. Meskipun orang-orang zaman lampau yang disebutnya ini telah menunjukkan kehidupan beriman yang patut diteladani, baginya “tanpa kita mereka tidak dapat sampai kepada kesempurnaan (hina mē khōris hēmōn teleiōthōsin)” (10:40). Yang dimaksud dengan “kita” dalam 10:40 adalah orang-orang Ibrani yang telah menerima Surat Ibrani ini, yaitu orang-orang Ibrani yang telah beriman kepada Yesus. Dibandingkan dengan orang-orang Ibrani lainnya yang tidak percaya kepada Yesus, kalangan penerima surat ini dipandang si penulisnya berkedudukan lebih tinggi dan telah mencapai kesempurnaan iman, sebab Yesus yang mereka percayai adalah “pemimpin dan penyempurna iman” (arkhēgon, teleiōtēn [12:2]) sementara “hukum Taurat sama sekali tidak membawa kesempurnaan” (7:19a). Dengan demikian, kekristenan yang dihayati si penulis Surat Ibrani ini dipandang olehnya lebih tinggi kedudukannya dibandingkan agama para nenek moyang bangsa Israel. Berhadapan dengan agama Yahudi, superiorisme dan supersesionisme Kristen dipegang dan dipertahankannya.

Mengapa si penulis Surat Ibrani memandang versi kekristenan yang dipegangnya lebih unggul dan sempurna dibandingkan agama Yahudi? Jawaban atas pertanyaan ini ditemukan dalam kristologi yang dipegang olehnya. Dalam pasal 1, Yesus dipandang olehnya memiliki pra-eksistensi, sebagai suatu “Oknum” adikodrati yang menjadi agen penciptaan dunia bersama Allah: “melalui Dia Allah telah menjadikan alam semesta” (1:2); Yesus adalah “cahaya kemuliaan Allah dan gambar wujud (kharaktēr tēs hupostaseōs) Allah yang menopang segala yang ada dengan firman-Nya” (1:3). Meskipun Yesus pernah “dalam waktu yang singkat dibuat lebih rendah dari pada malaikat-malaikat” (2:9a), yaitu ketika Dia “sebagai manusia” (5:7), namun setelah dia “selesai melakukan penyucian dosa, Dia duduk di sebelah kanan Yang Mahabesar, di tempat yang tinggi, jauh lebih tinggi dari pada malaikat-malaikat” (1:3b-4). Kalau bagi bangsa Yahudi Nabi Musa menempati kedudukan tertinggi sebagai seorang yang suci, bagi si penulis Surat Ibrani kemuliaan Yesus “lebih besar dari kemuliaan Musa” (3:3). Kalau Musa diibaratkan sebagai “rumah yang dibangun”, Yesus adalah ahli bangunannya atau arsiteknya (3:3b); kalau Musa diibaratkan sebagai “pelayan rumah Allah”, Yesus dipandangnya sebagai “Anak yang mengepalai rumah-Nya” (3:5-6). Gelar Anak (atau Anak Allah) untuk Yesus ditemukan juga dalam 1:2; 4:14; 5:5, 8; 6:6; 7:28.

Selain gelar-gelar yang sudah disebut di atas, beberapa gelar lain diberikan si penulis Surat Ibrani kepada Yesus: Rasul Allah (3:1); Kristus (5:5; 9:11, 14, 24; 13:8); Gembala Agung segala domba (13:20). Di beberapa tempat Yesus juga disebut sebagai Tuhan (kurios [2:3; 10:25; 13:20]). Tetapi gelar terpenting yang diberikan kepada Yesus adalah gelar Imam Besar; dan pada gelar inilah berpusat kristologi yang membuat si penulis Surat Ibrani menempatkan versi khas kekristenannya lebih tinggi dari agama Yahudi.

Jabatan imam besar adalah jabatan kultik terpenting dan tertinggi dalam ritual keselamatan Yahudi yang dinamakan Yom Kippur, Hari Pendamaian (hari kesepuluh bulan Tishri; akhir September atau awal Oktober). Imam besar adalah sosok kultik satu-satunya yang memungkinkan ritual pencucian dosa bangsa Israel setahun sekali pada Yom Kippur dijalankan, dengan aturan dan prosedur ritual yang sudah dibakukan, dengan darah lembu jantan atau darah domba jantan menjadi sarana ritual terpenting yang dipercik ke tengah umat oleh imam besar sebagai suatu ritual simbolik penghapusan dosa umat (lihat Imamat 16:1-34; 23:26-32; Ibrani 9:19; 10:4).

Dalam pandangan si penulis Surat Ibrani, meskipun Yesus dilantik oleh Allah sebagai Anak Allah atau Raja Israel (Ibrani 5:5; kutipan dari Mazmur 2:7), namun yang terpenting baginya adalah bahwa Yesus “dipanggil” oleh Allah untuk menjadi Imam Besar menurut peraturan Melkisedek (5:1-10; khususnya ayat 6 yang memuat kutipan Mazmur 110:4; dan Ibrani 5:10). Peraturan Melkisedek yang dimaksud olehnya adalah bahwa status Yesus sebagai Imam Besar ditetapkan oleh Allah untuk berlaku kekal sampai selama-lamanya, dan berdasarkan kehidupan yang tidak dapat binasa (5:6; 6:20; 7:3; 7:16-17; 7:21, 24). Status sebagai Imam Besar yang kekal dan tidak bisa binasa dimungkinkan dimiliki Yesus karena status ini disandang Yesus di surga. Si penulis menyatakan, “Sekiranya Dia [Yesus] di bumi ini, Dia sama sekali tidak akan menjadi imam” (8:4).

Sebagai Imam Besar surgawi, Yesus duduk di sebelah kanan Allah di surga (8:1; lihat juga 1:3; 10:12; 12:2) dan melayani ibadah di “tempat kudus” atau di “kemah sejati” atau “kemah yang lebih besar dan yang lebih sempurna”, yang didirikan oleh Allah dan bukan oleh manusia (8:2; 9:11). Di surga, Yesus sebagai Imam Besar menjalankan fungsi sebagai “Juru syafaat” (TB LAI: Pengantara) (entugkhanō ) manusia (7:25; bdk 9:24). Dan di surga juga, Yesus menjadi sang Pengantara (ho mesitēs) perjanjian yang lebih mulia, yang didasarkan pada suatu janji yang lebih tinggi, yaitu perjanjian baru (diathēkē kainē) (8:6-13; juga 9:15; 10:9; 12:24). Dengan tibanya perjanjian yang baru ini, maka perjanjian yang Allah buat dengan nenek moyang Israel menjadi suatu perjanjian yang “telah menjadi tua, usang dan dekat pada kemusnahan” (8:13) dan harus “dihapuskan” (10:9) — suatu pelabelan yang sangat keras yang dibuat si penulis Surat Ibrani terhadap Yudaisme, berhadap-hadapan dengan versi khas kekristenan yang dibangunnya.

Dengan memakai sudut pandang Platonis dan hermeneutik tipologis, si penulis menyatakan bahwa ritual imamat pemberian kurban yang dilangsungkan di bumi, yang terpusat di Bait Allah Yerusalem, adalah “replika” (TB LAI: “gambaran”) (hupodeigmati) dan “bayangan” (skia) (8:5) (antitupos, dalam 9:24) dari ibadah yang berlangsung di surga, di kemah sejati yang dibuat bukan oleh tangan manusia tetapi oleh Allah, dan dilayani oleh Yesus sebagai Imam Besarnya. Di kemah sejati di surga ini, ibadah imamat yang dilayani Yesus sudah sempurna: Yesus sebagai Imam Besar yang kekal tidak lagi perlu berulang-ulang mempersembahkan kurban binatang dan memercikkan darah, tidak seperti yang berlangsung di bumi di “kemah pertama” buatan tangan manusia, di mana “kurban yang sama setiap tahun terus-menerus dipersembahkan” (10:1b; bdk 9:6-7). Dalam pandangan si penulis Surat Ibrani, Yesus sang Imam Besar surgawi “telah melintasi kemah yang lebih besar dan yang lebih sempurna, yang bukan dibuat oleh tangan manusia, artinya: yang tidak termasuk ciptaan ini, dan Dia telah masuk satu kali untuk selamanya (efapaks; lihat juga 7:27; 9:26, 28; ) ke dalam tempat yang kudus bukan dengan membawa darah domba jantan dan darah anak lembu, tetapi dengan membawa darah-Nya sendiri” (9:11-12). Gambaran tentang Imam Besar yang mengurbankan dirinya sendiri semacam ini tentu unik dalam versi kekristenan yang dibangun si penulis Surat Ibrani, tetapi tentu saja tidak bisa diterima dalam sistem imamat agama Yahudi yang di dalamnya ritual penyembelihan hewan kurban yang dipimpin imam besar adalah bagian esensial dari sistem kepercayaan mereka.

Selanjutnya si penulis Surat Ibrani menyatakan, “Sebab, jika darah domba jantan dan darah lembu jantan dan percikan abu lembu menguduskan mereka yang najis, sehingga mereka disucikan secara lahiriah, betapa lebihnya darah Kristus —yang oleh Roh yang kekal telah mempersembahkan diri-Nya sendiri kepada Allah sebagai persembahan yang tak bercacat—akan menyucikan hati nurani kita dari perbuatan yang sia-sia, supaya kita dapat beribadah kepada Allah yang hidup” (9:13-14). Jadi, darah Kristus memiliki kekuatan dan keampuhan yang lebih besar dari darah binatang kurban dalam menyucikan hati nurani manusia; bahkan, ditegaskan oleh si penulis surat Ibrani, “tidak mungkin darah lembu jantan atau darah domba jantan menghapuskan dosa” (10:4). Dengan demikian, ritual imamat pencucian dosa yang dilangsungkan dalam Yudaisme dikalahkan oleh ibadah surgawi yang dilayani Yesus sebagai Imam Besar surgawi. Maka, tandas si penulis Surat Ibrani, lagi dengan memakai sudut pandang Platonis, “Di dalam hukum Taurat hanya terdapat bayangan (skia) saja dari hal-hal (TB LAI: keselamatan) yang akan datang, dan bukan wujud sejati (eikōn) (TB LAI: hakikat) dari hal-hal itu sendiri” (10:1). “Hal-hal yang akan datang” ini mengacu kepada ibadah di kemah surgawi yang dilayani Yesus sebagai Imam Besar surgawi; dan “hal-hal yang akan datang ini” tidak akan terwujud atau belum akan tiba “selama kemah yang pertama ini masih ada” (9:8). Rujukan temporal kepada kemah yang pertama ini memberi sebuah indikasi bahwa si penulis Surat Ibrani, yang membayangkan Yesus sebagai Imam Besar sudah berada di surga, hidup pada masa Bait Suci di Yerusalem sudah tidak ada, kurun waktu pasca-tahun 70 M.

Pertanyaan: Kapan persisnya Yesus sebagai Imam Besar “mempersembahkan dirinya sendiri kepada Allah sebagai persembahan yang tak bercacat” dengan “membawa darahnya sendiri”? Di surga jelas hal ini tidak mungkin dilakukan. Si penulis Surat Ibrani dengan jelas menyatakan bahwa hal ini Yesus lakukan ketika dia mengalami penderitaan dan kematian, disalibkan di bumi (2:9, 10, 14; 6:6; 12:2). Tetapi, bagaimana menghubungkan penderitaan dan kematian Yesus yang berlangsung di bumi dengan statusnya sebagai Imam Besar surgawi yang melayani di kemah sejati surgawi yang bukan buatan tangan manusia dan di sana dia menjadi Juru syafaat bagi manusia di hadapan Allah? Jawaban atas pertanyaan ini ditemukan pada satu bagian penting pasal 4, di mana dinyatakan bahwa Yesus sebagai Imam Besar “telah melintasi semua langit” (dielēluthota tous ouranous) (ayat 14). Yesus yang “melintasi semua langit” adalah gambaran yang digunakan si penulis Surat Ibrani untuk menghubungkan peristiwa penyaliban Yesus dengan keberadaannya di surga, di mana dia duduk si sebelah kanan Allah, dan melayani ibadah di kemah surgawi yang dibuat oleh Allah. Peristiwa penyaliban dan kematian Yesus bagi si penulis Surat Ibrani, dengan demikian, adalah saat Yesus melintasi semua langit, lalu memasuki kawasan surgawi dan duduk di sebelah kanan Allah. Dengan demikian dapat dimengerti mengapa si penulis Surat Ibrani tidak satu kali pun menyebut-nyebut ihwal kebangkitan Yesus (bdk 13:20!), suatu tema sentral dalam hampir seluruh Perjanjian Baru. Selain itu, saat kematian Yesus sebagai jalan dia melintasi semua langit adalah juga saat dia dilantik menjadi Imam Besar surgawi menurut peraturan Melkisedek.

Apakah Yesus sendiri berprakarsa untuk “mencuci”, “menghapuskan”, “mendamaikan dosa” “banyak orang” (9:28) atau dosa “seluruh bangsa” (2:17) dan “menguduskan umat” (13:12) dengan dia “mempersembahkan dirinya sendiri sebagai kurban” (7:27; 9:12, 14, 25, 28; 10:12), sehingga pengurbanan Yesus di kayu salib keluar dari kehendak bebasnya sendiri dan bukan bagian dari rencana dan ketetapan Allah sendiri? Jawabnya: Tidak! Menurut si penulis Surat Ibrani, tindakan Yesus sebagai Imam Besar yang mempersembahkan dirinya sendiri sebagai kurban tidak dapat dilepaskan dari kehendak dan keterlibatan Allah sendiri: Pada zaman akhir, Allah telah berbicara kepada manusia dengan perantaraan Yesus, Anak-Nya, yang Dia telah tetapkan sebagai yang berhak menerima segala yang ada (1:2); melalui kasih karunia Allah, Yesus mengalami maut bagi semua orang (2:9); Allah menyempurnakan Yesus dengan penderitaan (2:10); Allah harus menyamakan Yesus dengan orang-orang lain saudara-Nya supaya dia menjadi Imam Besar yang menaruh belas kasihan dan yang setia kepada Allah (2:17); Yesus setia kepada Allah yang telah menetapkannya (3:1-2); sebagai Imam Besar, Yesus dimuliakan oleh Allah (5:5); Allah menetapkan dan memanggil Yesus untuk menjadi Imam Besar (5:10; 7:11, 18, 28); Allah bersumpah mengangkat dan menjadikan Yesus Imam Besar menurut peraturan Melkisedek (7:21). Di samping itu, si penulis Surat Ibrani juga menggambarkan pergumulan berat yang harus dipikul Yesus sampai pada penyalibannya (5:7-10); jadi salib bagi Yesus bukanlah hal yang mudah dan ringan, yang dipikulnya dengan rela dan ringan-ringan saja. Dan jangan dilupakan, Yesus dari Nazaret bukanlah betulan seorang Imam Besar surgawi yang dengan rela memberikan darahnya sendiri; realitanya di dunia empiris, Yesus dari Nazaret adalah seorang korban dari sistem politik Roma yang berlaku pada masanya.

Jelas sudah, ada banyak topik teologis dalam Surat Ibrani yang membuat kita harus menyimpulkan bahwa versi kekristenan yang dibangun si penulisnya dipandangnya sebagai versi kekristenan yang mengungguli Yudaisme, dan bahkan menggantikannya. Pemberian gelar kepada Yesus sebagai Imam Besar menurut peraturan Melkisedek yang memberi dirinya sendiri sebagai kurban satu kali untuk selamanya, betul-betul menyepelekan fungsi imamat dalam agama Yudaisme. Tetapi, pada pihak lain, dalam konteks pasca-tahun 70 M ketika Bait Allah di Yerusalem sudah tidak ada, sehingga ritual kurban tidak bisa lagi dijalankan dan fungsi imamat terhenti, memandang Yesus sebagai sang Imam Besar surgawi yang kekal adalah suatu upaya berteologi yang brilian karena dengan cara ini jabatan Imam Besar dipertahankan kendatipun untuk itu ibadah yang dilayani Yesus harus dipindahkan dari bumi ke surga, dan Bait Allah di bumi yang dibuat manusia diganti dengan kemah surgawi yang lebih besar dan kekal.
Dengan kata lain, sekalipun supersesionisme dan superiorisme si penulis Surat Ibrani tampak mencuat tajam, namun dalam konteks pasca-tahun 70 M, versi kekristenannya yang khas adalah juga suatu penjelmaan lain dari Yudaisme yang diproyeksikan ke kawasan surga adikodrati.